Tampilkan postingan dengan label dreamcatcher. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dreamcatcher. Tampilkan semua postingan

Dongeng Dunia: Asal-Usul Dreamcatcher

Berdasarkan kisah suku Amerika Asli dari beberapa negara dan suku termasuk Chippewa, Mi'kmaq, dan Ojibwa.

Gambar: bluefeatherspirit.wordpress.com

Nokomis adalah seorang nenek yang sangat menyayangi cucu laki-lakinya. Tiap hari mereka berjalan-jalan melihat berbagai hal dan tertawa-tawa. Sore hari, anak laki-laki itu sering bermain di halaman sementara neneknya beristirahat di tempat tidur, menyaksikan cucunya lewat jendela.

Ketika anak itu ingin menunjukkan sesuatu pada Nokomis, dia berlari dan memanjat tempat tidur neneknya untuk melihat apakah nenek sedang tidur. Kadang Nokomis tertawa melihat apa yang dibawa anak itu padanya, dan anak itu pun merasa senang.

Suatu hari, saat menonton cucunya bermain, Nokomis mulai mengantuk oleh karena cahaya matahari yang bersinar menembus jendela. Tapi tiba-tiba Nokomis melihat sesuatu bercahaya di sudut. Dia bangkit duduk dan melihat lebih dekat. Ada laba-laba yang sedang memilin jaring dekat lantai, cahaya matahari berkerlip di jaring itu seiring Nokomis bergerak.

Si nenek tersenyum dan menyapa lembut, "Halo laba-laba. Jaringmu indah sekali." Kemudian dia bersandar lagi di tempat tidurnya. Selama sisa sore itu, nenek Nokomis menikmati menonton cucunya bermain di luar dan si laba-laba yang bekerja pelan-pelan di sudut.

Keesokan harinya, Nokomis mendapati si laba-laba masih mengerjakan jaringnya yang kini semakin besar. Dia merunduk untuk melihat. Si laba-laba berhenti memilin dan melihat kepada Nokomis.

"Kerjamu sangat bagus sekali dengan jaring ini," Nokomis berkata lembut. "Benang-benangnya berjarak seragam dan bentuknya sempurna. Terlihat kuat dan indah."

Si laba-laba melambaikan dua kaki depannya kepada Nokomis dan mulai memilin lagi. Kemudian Nokomis duduk dan menonton cucunya bermain lagi.

Sebentar kemudian, anak laki-laki itu berhenti bermain dan berlari ke dalam rumah.

"Nenek!" dia memanggil sembari berlari ke kamar neneknya. "Nenek, apa nenek tidur?"

Dia masuk ke kamar dan berhenti ketika melihat laba-laba di jaring besarnya.

"Laba-laba," anak itu berkata dan melepas sepatunya. Dia mengendap-endap ke arah jaring itu, siap merusak jalinan jaring yang indah itu dan membunuh si laba-laba.

"Jangan, tunggu!" Nokomis berseru. "Jangan sakiti dia!"

Anak itu berhenti dan melihat neneknya. "Kenapa? Itu 'kan cuma laba-laba."

"Jangan ganggu dia," Nokomis berkata. "Dia tidak menyakitimu dan jaringnya juga indah. Sini, duduk sama nenek."

Anak itu memasang kembali sepatunya dan berlari ke tempat tidur. Dia kemudian tertawa dan memanjat ke sebelah neneknya. Nokomis menggelitikinya dan mengusap kepala anak itu dengan lembut.

Mereka tidur-tiduran sebentar. Nokomis menyanyikan lagu kesukaan cucunya dan anak itu tertawa dan ikut bernyanyi. Setelah lagunya selesai, anak itu bertepuk tangan, melompat turun dan berlari ke luar rumah lagi.

Ketika kamar itu sudah sepi, si laba-laba memanjat turun dari jaringnya dan berjalan menyeberangi lantai dan naik ke tempat tidur. Nokomis bangkit dan terkejut melihat laba-laba itu.

"Terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku," hewan itu berkata. "Aku melihat kau suka memerhatikan saat aku memilin jaringku. Aku juga dengar kau berbicara padaku dan aku tahu kau menyukai hasil karyaku. Maka dari itu aku akan memberikan sebuah hadiah untukmu."

Nokomis sulit mempercayai apa yang dia dengar. Dia duduk diam menyaksikan si laba-laba bergerak ke dinding di sebelah tempat tidurnya. Laba-laba itu kemudian merayap ke sudut dekat langit-langit dan menjalin sebuah jaring yang besar.

Malam pun tiba dan bulan bersinar di luar jendela. Laba-laba itu merayap dan memilin selama berjam-jam. Sebelum subuh tiba, dia berhenti dan jaring yang dia buat pun selesai. Nokomis berlutut di bantalnya dan mencondongkan badan untuk melihat dari dekat.

Benang-benang jaringnya dibentuk menjadi banyak lingkaran, ditahan terpisah oleh helai-helai jaring yang mengembang dari lingkaran kecil ke lingkaran terbesar di tepian jaring.

"Aku membuat ini untuk menangkap mimpi-mimpimu ketika kau tidur," kata laba-laba itu. "Mimpi baik akan melewati lubang di tengah dan melayang turun kepadamu. Mimpi buruk akan tersangkut di jaring dan hilang ketika matahari terbit. Penangkap mimpi ini adalah hadiahku untukmu."

Foto: Wikipedia.org

Catatan: sosok laba-laba dalam cerita ini merepresentasikan sosok dewi bernama Asibikaashi atau juga disebut Nenek Laba-laba. Sosok ini dipercaya bersifat melindungi dan membantu orang-orang yang membutuhkannya. Dreamcatcher atau penangkap mimpi masih digunakan hingga kini karena dipercaya dapat melindungi anak-anak kecil dan orang dewasa dari mimpi buruk.

Salah satu desain dreamcatcher tradisional. Foto: Wikipedia.org


Dreamcatcher

Dream catcher dibuat dan digunakan oleh banyak suku asli Amerika, tetapi mereka bukanlah bagian dari budaya tradisional.

Orang-orang suku Ojibwa mengatakan mereka membuat dream catcher pertama di jaman kuno.

Mereka menggunakan ranting pohon willow yang masih segar, batang jelatang, otot hewan dan bulu burung hantu. Mereka membengkokkan rantingnya menjadi lingkaran dan kemudian mengeringkannya untuk membuat bingkai. Lalu mereka menjalin batang jelatang dan otot hewan menyilang mengelilingi bingkainya untuk membuat semacam jaring, membuat gantungan-gantungan untuk mengikat bulu-bulu.

Kakek dan Nenek Ojibwa membuat dream catcher yang lebih kecil untuk menggantungnya di buaian cucu-cucu mereka. Setiap kali bulu-bulu itu bergerak saat seorang anak tertidur, mereka percaya sebuah mimpi yang baik mendatangi sang anak.

Mereka juga memberi dream catcher sebagai hadiah ucapan semoga sukses kepada generasi muda ketika mereka menikah.

Suku mereka masih menggantung dream catcher diatas tempat tidur mereka. Mereka percaya bahwa ketika sebuah dream catcher bergerak, ia sedang menangkap mimpi-mimpi yang sedang terbang berlalu.

Mimpi-mimpi yang baik akan tersangkut pada lubang di tengahnya, turun melalui bulu-bulu untuk memberi mimpi yang baik kepada orang yang sedang tidur. Mimpi buruk tidak akan terperangkap di jaringnya. Ketika pagi tiba, mereka lenyap.

Saat ini dream catcher dibuat dengan banyak material yang berbeda. Beberapa memiliki manik-manik dan juga bulu-bulu dan ada juga yang memiliki satu batu mulia, sebagai simbol si pembuat, kehidupan atau simbol dari alam. Orang menggantung mereka di banyak tempat, tidak hanya di buaian di kamar anak-anak. Mereka menggantungnya di ruang keluarga dan spion depan mobil dan truk. Mereka juga sangat populer di kalangan para turis.

Beberapa orang berpikir dream catcher adalah benda yang sangat indah untuk dimiliki. Beberapa memandang mereka sebagai sesuatu yang membawa banyak unsur budaya Native American (budaya asli).

Dream catcher yang dibuat oleh seniman-seniman dan pengrajin sangat indah penampilannya, menenangkan dan penuh kedamaian saat dipandang, saat bulu-bulunya bergerak dan bergoyang oleh angin. Dream catcher ini dibuat dengan rasa kasih-sayang yang sama dengan yang dibuat oleh suku Ojibwa jaman dulu.

Mukulin Rumah Pake Roti? Inilah 6 Tradisi & Kepercayaan Unik Seputar Tahun Baru

 Ada banyak tradisi dan kepercayaan seputar tahun baru dari berbagai negara dan budaya. Kalau di daerah atau keluarga kamu tradisinya sepert...